Nganjuk.kliksurabaya.co.id – Kondisi atmosfer di wilayah Jawa Timur, khususnya Kabupaten Nganjuk, kini resmi memasuki periode puncak musim kemarau. Berdasarkan data pemantauan hingga 18 Agustus 2026, curah hujan di Kota Angin tercatat berada pada kategori sangat rendah (kurang dari 20 mm per dasarian) yang didominasi cuaca cerah hingga cerah berawan. Kondisi kering ini kian dipicu oleh anomali El Nino kuat di Samudra Pasifik serta potensi kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September-Oktober mendatang.
Kesiapsiagaan menghadapi dinamika cuaca ekstrem tersebut dikupas tuntas melalui siaran dialog interaktif di 105,3 Radio Suara Anjuk Ladang (RSAL FM) pada Rabu, 19 Agustus 2026. Dialog bertajuk “Perkembangan Musim Kemarau, Memahami El Nino, dan Bersiap Menghadapi Dampaknya Bersama BMKG” menghadirkan Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris, sebagai narasumber utama.
Setiyaris menerangkan bahwa iklim Indonesia dipengaruhi oleh empat faktor utama, yakni fenomena ENSO (El Nino/La Nina) di Samudra Pasifik, IOD di Samudra Hindia, sirkulasi Monsun Asia-Australia, serta suhu muka laut perairan nusantara. Selain itu, dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Ekuatorial Rossby turut memengaruhi cuaca lokal sewaktu-waktu.
Untuk tahun 2026, indeks anomali suhu muka laut di Pasifik Tengah dan Timur pada periode Juni–Agustus telah melampaui angka 2°C, yang mengindikasikan status El Nino kategori kuat.
“Perpindahan kolam hangat ke Pasifik Timur menyebabkan Indonesia mengalami defisit uap air pembentuk awan hujan. Kondisi kemarau ini berpotensi semakin kering karena pada bulan September hingga Oktober diprediksi muncul fenomena IOD dari Samudra Hindia Barat Sumatra. Namun demikian, peluang hujan lokal berdurasi singkat (1 hingga 1,5 jam) tetap ada jika terjadi gangguan gelombang atmosfer ekuatorial,” urai Setiyaris.
Terkait karakteristik hembusan angin kencang di Kabupaten Nganjuk, BMKG membeberkan penjelasan ilmiah mengenai efek corong (corridor effect). Posisi geografis Nganjuk bagian selatan diapit oleh dua formasi pegunungan besar, yakni Pegunungan Wilis di selatan serta Gunung Welirang-Arjuno-Kelud di sisi timur.
Saat massa udara dingin Monsun Australia masuk melalui celah pegunungan yang luas, angin mengalami penyempitan dimensi ruang. Akibatnya, kecepatan angin yang keluar di wilayah dataran Nganjuk terakselerasi menjadi jauh lebih kencang layaknya fluida yang ditekan melalui ujung corong kecil.
Selain angin kencang, warga Nganjuk kini merasakan fenomena bediding, yakni lonjakan suhu yang sangat panas pada siang hari namun anjlok menjadi dingin menusuk menjelang dini hari. Fenomena tahunan ini terjadi akibat intrusi massa udara kering dan dingin dari daratan Australia yang sedang berada pada puncak musim dingin.
Berdasarkan koordinasi bersama BPBD Kabupaten Nganjuk, sejumlah wilayah diidentifikasi masuk dalam peta rawan krisis air bersih dan kekeringan lahan. Titik rawan tersebut meliputi Kecamatan Ngluyu (Desa Tempuran dan Ngluyu), Kecamatan Lengkong, Kecamatan Gondang (Desa Sumberjo), serta beberapa kantong desa di Kecamatan Pace dan Loceret yang rutin membutuhkan pasokan dropping air bersih.
Kendati membawa ancaman kekeringan dan risiko kebakaran hutan/lahan (karhutla), El Nino di sisi lain memberikan dampak positif bagi komoditas pertanian unggulan Nganjuk.
“Bagi komoditas bawang merah (berambang), intensitas sinar matahari tinggi dan cuaca terik justru meningkatkan kualitas umbi panen menjadi sangat baik, asalkan pasokan air irigasi dasarnya tetap tercukupi secara presisi dan tidak kekurangan,” jelas Setiyaris.
Keuntungan serupa turut dirasakan oleh petani garam serta nelayan tangkap di laut selatan berkat fenomena upwelling yang menarik plankton dan gerombolan ikan.
BMKG memproyeksikan fenomena El Nino 2026 masih akan bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi ini berdampak langsung pada mundurnya awal musim penghujan di Kabupaten Nganjuk.
Curah hujan periode Agustus hingga Oktober diproyeksikan berada pada rentang sangat rendah (0–20 mm/bulan). Memasuki November, hujan diprediksi mulai turun namun masih dalam kategori rendah (50–100 mm/bulan) di bawah rata-rata normalnya. Puncak musim hujan baru akan kembali normal dengan intensitas menengah-tinggi pada bulan Desember 2026, Januari, hingga Februari 2027 seiring menguatnya Monsun Asia.
Menutup dialog, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh, mengenakan pakaian tebal saat malam hari guna mengantisipasi suhu dingin, serta memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat debu kemarau. Warga juga diminta tidak membakar sampah sembarangan dan selalu merujuk pada kanal informasi resmi BMKG.(***)
