Nganjuk.kliksurabaya.co.id – Komitmen penuh dalam melindungi dan menyejahterakan petani kembali ditegaskan oleh Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi. Hal tersebut disampaikannya secara langsung saat memberikan arahan strategis pada acara Panen Raya dan Field Day Demplot Bawang Merah di Dusun Bulurejo, Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso, Rabu (12/8/2026).
Dalam sambutannya, Kang Marhaen menyoroti pentingnya kolaborasi antara pengalaman empiris petani di lapangan dengan riset akademis dari perguruan tinggi seperti IPB. Keberhasilan penggunaan agens hayati Trichoderma Planteria menjadi bukti nyata sinergi tersebut. Inovasi ini terbukti mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 40 persen sekaligus mendongkrak produktivitas panen dari 7 ton menjadi 10 ton per hektare.
Selain berfokus pada peningkatan produktivitas budidaya, Kang Marhaen memaparkan strategi tegas pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas ekonomi petani, terutama saat harga bawang merah anjlok di pasaran.
“Kita siapkan skema tunda jual. Untuk menutupi kebutuhan ekonomi petani selama masa tunda jual ini, pemerintah daerah memberikan dukungan pendanaan dan pinjaman melalui BPR Anjuk Ladang serta koperasi,” tegas Kang Marhaen.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Kang Marhaen mengimbau agar jadwal panen tidak dilakukan secara serentak, melainkan diatur bergiliran antar wilayah sentra seperti Wilangan, Bagor, Rejoso, Gondang, hingga Sukomoro. Selain itu, pemerintah juga telah menggerakkan Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk melacak dan menindak tegas para importir ilegal yang kerap merusak stabilitas harga bawang merah lokal.
Untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan unsur hara tanah, Bupati mendorong petani menerapkan sistem rotasi tanaman. Pola yang disarankan adalah menanam bawang merah dua musim, kemudian diselingi dengan kedelai, khususnya varietas edamame. Tanaman kedelai berfungsi mengembalikan kesuburan dan menggemburkan tanah. Melalui kolaborasi dengan IPB, hasil panen edamame ini nantinya ditargetkan dapat diserap langsung oleh jaringan pasar swalayan modern.
Lebih lanjut, Kang Marhaen mengusulkan pembentukan paguyuban khusus bagi petani bawang merah dan kedelai. Wadah ini akan memfasilitasi interaksi langsung antara petani daerah dengan pihak kementerian, seperti Kementerian Pertanian dan Kementerian Ristekdikti, hingga TNI Angkatan Laut untuk program pengembangan agromaritim. Melalui paguyuban ini, Nganjuk akan memperkuat perlindungan terhadap benih lokal dan mem-branding bawang merah Nganjuk sebagai produk premium unggulan yang minim residu kimia.
Menutup arahannya, orang nomor satu di Nganjuk ini menegaskan bahwa pemerintah daerah selalu hadir secara holistik bagi masyarakat. Sebelum tiba di Rejoso, Kang Marhaen menyampaikan bahwa ia baru saja merampungkan agenda sosial, di antaranya menyalurkan bantuan bagi 525 warga penyandang disabilitas serta menangani pembebasan warga dari kasus pemasungan guna mewujudkan target Nganjuk Bebas Pasung secepatnya.







